Kamis, 25 April 2019

5 Fakta Hari Buku Sedunia yang Jatuh pada 23 April


Tampaknya tak banyak yang tahu kalau 23 April 2019 lalu adalah World Book Day alias Hari Buku Sedunia. Pada tanggal ini seluruh negara yang menjadi anggota PBB merayakan momen khusus untuk mempromosikan budaya membaca, penerbitan, dan hak cipta.

Apa saja yang perlu kita ketahui tentang Hari Buku Sedunia 2019? Berikut ini beberapa fakta yang berhasil kami rangkum.

1. Hari untuk mengapresiasi serta mempromosikan buku, budaya membaca, hak cipta, dan penerbitan.
UNESCO menetapkan tanggal 23 April sebagai Hari Buku Sedunia atau juga dikenal dengan nama Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia untuk mempromosikan literasi, penerbitan, dan hak cipta.

2. Berawal dari sebuah toko buku di Katalonia
Pencetusan 23 April sebagai Hari Buku Sedunia berawal dari sebuah toko buku di Katalonia, Spanyol. Vicente Clavel Andres, seorang penulis, memilih tanggal tersebut karena bertepatan dengan tanggal kematian penulis Miguel de Cervantes.

3. Bertepatan dengan tanggal kematian atau kelahiran para penulis besar
Pada tahun 1995, UNESCO memutuskan Hari Buku Sedunia dan Hari Hak Cipta Sedunia dirayakan pada tanggal 23 April, sebab tanggal tersebut juga merupakan hari kematian William Shakespeare dan penulis terkenal lainnya.

Penulis lainnya yang juga lahir maupun meninggal pada tanggal 23 April yaitu Maurixe Druon, seorang novelis Prancis, lahir 23 April 1918, Manuel Mejia Vallejo, ia seorang penulis Kolombia yang lahir 23 April 1923 dan Halldor Laxness, seorang penulis Islandia yang lahir 23 April 1902.

4. Tema Hari Buku Sedunia 2019 adalah bahasa dan budaya lokal
Dilansir dari Hindustan Times, Direktur Jenderal UNESCO yaitu Audrey Azoulay merangkum tema Hari Buku Sedunia di tahun 2019 ini melalui kata-kata berikut.

"Buku adalah bentuk ekspresi budaya yang hidup dan sebagai bagian dari bahasa yang dipilih. Setiap publikasi yang dibuat dalam bahasa yang berbeda dan ditujukan untuk para pembacanya. Dengan demikian sebuah buku ditulis, diproduksi, dipertukarkan, digunakan dan dihargai dalam latar bahasa dan budaya tertentu. Tahun ini kami menyoroti dimensi yang penting karena 2019 menjadi Tahun Internasional Bahasa Pribumi yang dipimpin oleh UNESCO. Untuk menegaskan kembali komitmen masyarakat internasional dalam mendukung masyarakat adat untuk melestarikan budaya, pengetahuan dan hak-hak mereka."

Melalui Hari Buku Sedunia 2019 ini, UNESCO bertujuan untuk memperjuangkan buku-buku dan merayakan kreativitas, keragaman dan akses yang sama terhadap pengetahuan. Hari ini telah menjadi platform bagi orang-orang di seluruh dunia dan terutama bagi kepentingan industri buku termasuk penulis, penerbit, guru, pustakawan, lembaga publik dan swasta, LSM kemanusiaan dan media massa untuk bersama-sama mempromosikan literasi dan membantu semua orang untuk memiliki akses ke sumber daya pendidikan.

5. Hari Buku di Indonesia
Di Indonesia, peringatan baru Hari Buku dimulai tahun 2006 yang diprakarsai oleh Forum Indonesia Membaca. Peringatan ini dibuat dengan harapan dapat meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia.

Dikutip Vemale, berdasarkan data Unesco dari 1.000 penduduk Indonesia yang minat membaca hanya satu orang atau perbandingannya 1000:1. Kemudian dari sisi jumlah buku, 1 buku dibaca 15 ribu orang padahal yang seharusnya menurut Unesco, 1 buku hanya dibaca untuk 2 orang.

Selain itu, tingkat akses masyarakat Indonesia terhadap buku juga masih sangat kecil, yakni berkisar 41 persen. Rata-rata hanya 2 persen dari masyarakat Indonesia yang datang ke perpustakaan.

Nah, untuk merayakan Hari Buku Sedunia tahun ini, mari kita membaca dan membeli karya-karya penulis lokal. Mari kita sebarkan budaya membaca sambil mempromosikan karya anak negeri. Selamat hari buku sedunia!

0 komentar:

Posting Komentar